Showing posts with label Hasil Alam. Show all posts
Showing posts with label Hasil Alam. Show all posts

Tanaman Stevia Pemanis Alternatif

Saat ini gula telah menjadi salah satu komoditas yang strategis mengingat semakin meningkatnya kebutuhan nasional gula. Diperkirakan kebutuhan gula pada tahun 2014 akan mencapai 5.7 juta ton. Selain daripada itu terjadi perkembangan permintaan produk gula kearah aspek kesehatan dan gaya hidup dengan munculnya gula non-kalori.

Terdapat salah satu bahan baku gula non-kalori yaitu tanaman Stevia yang lebih populer di wilayah asalnya, Amerika Selatan, dan juga di Asia Timur seperti Jepang, China dan Korea Selatan. Di Paraguay, suku Indian Guarani telah menggunakan stevia sebagai pemanis sejak ratusan tahun lalu.

Ada sekitar 200 jenis stevia di Amerika Selatan, tetapi hanya Stevia rebaudiana yang digunakan sebagai pemanis. Tahun 70-an, stevia telah banyak digunakan secara luas sebagai pengganti gula. Di Jepang, 5,6% gula yang dipasarkan adalah stevia atau yang dikenal dengan nama sutebia. Stevia digunakan sebagai pengganti pemanis buatan seperti aspartam dan sakarin.

Stevia memiliki beberapa keunggulan antara lain tingkat kemanisannya yang mencapai 200-300 kali kemanisan tebu serta rendah kalori sehingga aman dikonsumsi oleh penderita diabetes dan obesitas. Selain itu, stevia juga bersifat non-karsinogenik. Zat pemanis dalam stevia yaitu steviosida dan rebaudiosida tidak dapat difermentasikan oleh bakteri di dalam mulut menjadi asam. Asam ini yang apabila menempel pada email gigi dapat menyebabkan gigi berlubang. Oleh karena itu, stevia tidak menyebabkan gangguan pada gigi.

Bagian tanaman stevia yang digunakan sebagai pemanis adalah daunnya. Daun stevia dapat langsung digunakan sebagai pemanis. Cara untuk memanfaatkannya yaitu dengan dikeringkan. Proses pengeringan tidak memerlukan panas yang tinggi. Untuk skala rumah tangga, cukup dengan mengeringkannya di bawah sinar matahari selama kurang lebih 12 jam, mengeringkannya lebih dari itu akan menurunkan kadar steviosidanya. Atau dengan mengeringkan daun stevia di dalam microwave selama 2 menit, kemudian diserbukkan. Serbuk ini dapat langsung dikonsumsi sebagai pemanis makanan. Pemanis stevia juga dapat dikonsumsi dalam bentuk cair, yakni dengan merendamnya selama 24 jam kemudian disimpan di dalam kulkas. Perbandingan air dengan stevianya 1 : 4.

Di Indonesia sendiri, penelitian untuk kemungkinan pengembangan stevia di Indonesia dilakukan sejak tahun 1984 oleh BPP (sekarang Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia) dan menghasilkan antara lain bibit unggul klon BPP 72. Daun Stevia klon BPP 72 mempunyai kandungan steviosida 10-12 % dan rebaudiosida 2-3 % (Suara Media, 2010). Identifikasi klon unggul stevia didasarkan pada beberapa kriteria antara lain produksi daun yang tinggi yaitu 3 – 5 ton/ha, pembungaan yang lambat, pertumbuhan yang baik, dan kandungan pemanis yang tinggi yaitu antara 11,5 – 16,7 % (Rukmana, 2003).




Sumber :
Gambar :
http://ezgrogarden.com

Artikel Kopi asal Indonesia

lazada.co.id
Indonesia merupakan salah satu negara penghasil kopi terbesar di dunia. Beragam jenis kopi ada di Tanah Air. Jenis yang paling terkenal dengan aromanya yang khas adalah kopi Arabika dan Robusta. Dari Aceh sampai Papua, setidaknya ada 12 daerah yang menghasilkan kopi unggulan. Beda daerah penghasilnya, beda pula jenisnya. Biasanya jenis kopi dibedakan atas kekentalan, rasa dan tingkat keasamannya. Hal ini ditentukan oleh faktor alam seperti jenis tanah, tinggi tanah dari permukaan laut, kelompok tanaman, juga faktor manusia saat memproses kopi dan penyimpanannya. Dibandingkan dengan kopi robusta, kopi arabika rasanya lebih nikmat dan tidak terlalu pahit , karena memiliki kandungan kafein yang lebih rendah. Harganya pun lebih mahal dibandingkan jenis kopi lainnya. 
Tingginya harga kopi arabika dipengaruhi oleh musim petiknya yang umumnya hanya satu kali dalam sebulan. Dibandingan dengan negara penghasil lainnya, Indonesia memang bukan penghasil kopi arabika terbesar, namun meski kecil ternyata Indonesia merupakan penghasil kopi jenis arabika terunggul di dunia. Ada tujuh jenis kopi arabika terbaik tumbuh di belahan dunia, 6 diantaranya dihasilkan oleh Indonesia dan hanya satu yang dihasilkan Jamaica, yaitu blue monism yang sangat terkenal enak dan mahal. 6 jenis kopi arabika terbaik Indonesia yang diakui dunia adalah kopi Gayo (Aceh), Mandailing (Sumatera Utara), Java (Jawa Timur), Kintamani (Bali), Toraja (Sulawesi) dan Mangkuraja (Bengkulu). Biji kopi Indonesia memang sangat terkenal keunikan rasanya, dan yang lebih menggembirakan lagi, berdasarkan data dari Indonesia Coffee Festival (ICF) kini Indonesia menduduki peringkat ketiga sebagai produsen kopi terbesar di dunia dan peringkat pertama masih dipegang Brazil. Berdasarkan data ICF, Indonesia mampu menghasilkan kopi robusta terbanyak sekitar 85 persen, dan kopi arabika 15 persen. Untuk dua jenis kopi itu saja Indonesia telah memproduksi 600.000 ton pertahun, yang dipanen dari 1,3 juta hektar kebun rakyat yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. ICF ingin menjadikan Indonesia sebagai kiblat kopi dunia, terbukti dengan digelarnya festival kopi Indonesia pada September lalu di Ubud, Bali. ICF juga turut mempromosikan agrowisata kopi sebagai salah satu destinasi pariwisata unggulan, dan juga berniat mengembangkan kuliner Indonesia sebagai gaya hidup menjadi bagian dari ekonomi kreatif. 
Menurut data ICF, setiap harinya para pencinta kopi di dunia menyeduh sekitar 100 miliar cangkir atau sekitar 165,9 ton. Indonesia sendiri membutuhkan kopi sekitar 121.107 ton per tahun.

Kopi Tubruk
Kopi sangat akrab di masyarakat Indonesia, bahkan bisa dibilang ngopi atau istilah minum kopi telah membudaya di Indonesia karena sering dilakukan, baik pag i hari, siang saa t sa ntai atau sore hari. Para penggemar kopi biasanya menghabiskan waktunya untuk bersantai dan ngobrol sambil menikmati secangkir kopi. Sebagian masyarakat Indonesia menyukai kopi tubruk. Cara paling sederhana menikmati kopi. Cukup dengan mencampur beberapa sendok bubuk kopi ditambah gula lalu diseduh dengan air mendidih. Tunggu beberapa menit, diaduk searah sampai rata dan kopi pun siap untuk diminum.
Penyajiannya cukup sederhana dan tidak perlu banyak waktu membuat kopi tubruk yang begitu digemari. Ingin kopi yang pahit, hanya mengatur perbandingan banyaknya bubuk kopi dan gula. Apabila ingin menikmati kopi dengan susu, hanya menambahkan susu ke dalam kopi dan gula sebelum diseduh dengan air mendidih. Sebagian besar warung kopi di Indonesia menyediakan kopi tubruk untuk pelanggannya. Istilah tubruk sebenarnya merujuk kepada biji kopi yang ditubruk atau ditumbuk hingga menghasilkan bubuk kopi. Bubuk kopi yang dihasilkan dari proses ini biasanya masih menyisakan bagian-bagian biji kopi yang masih kasar atau tidak seluruhnya benar-benar halus. Ketika bubuk kopi yang kasar ini dijerang dengan air mendidih akan menghasilkan butiran-butiran kasar yang mengambang. Proses penumbukan biji kopi ini biasanya memakai lesung atau alat penumbuk tradisional, namun sayang dengan adanya alat giling modern proses tersebut sudah jarang dilakukan.


sumber :
www.KabariNews.com/?50256